Bismillah,
Sebuah analogi sebelumnya aku mencoba menjelaskan pada seorang teman yang bertanya. Entah paham atau tidak yang pasti hanya Allah dan aku yang tau makna sebenarnya. Oke, ternyata menulis tak semudah itu apalagi muncul dari diri ini yang banyak salah dan kurangnya butuh tahapan naik turun hingga ada seseorang yang menampar dan menyadarkan akan keinginan dimasa lalu. Terima kasih tak perlu kuucap tapi insya allah selalu ada doa yang kuselipkan.
Hari ini sungguh luar biasa. Berawal dari kereta yang berkali-kali melintas di hadapan tapi aku tak kunjung mendekat dan memutuskan untuk masuk kereta. Ada tujuan dibalik itu yaitu menunggu teman dan memilih jurusan yang sesuai agar tidak salah arah. Bersamaan dengan itu, buku yang sedang kubawa kemana-mana (karena belum habis baca) dibeli dari seorang kakak berkat kekagumanku dengan foto kutipan dari buku tersebut.... luar biasa. Buku itu membahas hal yang cukup berkaitan dengan imajinasi keretaku saat itu. Naik kereta aja harus tau kemana yang dituju. Harus sesuai, supaya tidak keliru nantinya, dan buku itu aku sedang baca bagian pentingnya visi dan gambaran masa mendatang. Sudah mulai kebayang??? dan ya! sepertinya diri ini butuh lebih serius merancang diri. Seperti saat ingin menaiki kereta, tanyakan lagi apa tujuanmu. Jangan sampai salah arah dan tidak sampai ke tujuan.
Betapa nikmatnya perjalanan, saat kau ditemani orang yang dapat mengisinya dengan penuh kebahagiaan.Ingin rasanya waktu diperlambat agar sampai lebih lama ditujuan. Begitu juga hidup, Allah tau cara terbaik menghibur hamba-Nya dengan menghadirkan sosok-sosok berharga dalam hidup yang membuat ingin berlama-lama dalam sebuah lingkaran. Belum terlambat untuk terus merancang hidup ini berusaha menjadi lebih baik. Teman baikku mengirimkan sesuatu yang kurang lebih isinya seperti ini
Hidup bagai sebuah buku. Cover depan adalah tanggal lahir dan cover belakang tanggal kita kembali. Didalamnya terdapat lembar yang sudah terisi dan sebagiannya masih bersih. Tidak ada kata terlambat untuk terus berbenah diri bagaimanapun kelamnya isi hidup sebelumnya.
Terima kasih buat semua yang sudah banyak menyadarkan diri ini, memang kebanyakan tulisan di sini sangat sederhana.setidaknya jika tidak sampai... penulis dapat mengingatkan kembali dirinya. Bukan untuk dimaklumi, tapi untuk dievaluasi betapa kurangnya diri ini.
Komentar
Posting Komentar